Dinsdag 16 Februarie 2016

Bentuk Pembebasan dalam Tontonan; Drama sebagai Sarana Pembebasan, Pengenalan Diri, dan Pendidikan

Drama dipentaskan dalam bentuk tuntas dari sebuah proses. Di balik proses drama ada banyak hal yang dapat dijadikan suatu pembelajaran hingga menjadi bahan tawaan. Oleh karena itu, saat pementasan, drama menjadi satu kolaborasi yang utuh untuk semua orang yang hadir dalam pertunjukkan hingga melahirkan kesan tersendiri. Intrepretasi dan pesan yang dipertunjukkan dengan bebas diniliai, dirasakan, dan diresapi oleh semua yang terlibat dalam drama tersebut.
Pada pembahasan bentuk pembebasan dalam tontanan, kelompok kami mengungkapkan isi pikiran yang kemudian didiskusikan. Semua pemikiran yang dituangkan memiliki satu konteks yang sama. Pembebasan dalam suatu pertunjukkan disebut Katarsis, istilah ini berasal dari Yunani yang artinya pembebasan, pencerahan, pembebasan dalam sebuah konteks yang dibebaskan melalui teater. Sebuah pembebasan dapat membangkitkan emansipatoris, yang berarti setelah pembebasan tersebut, lahirlah hal yang menggerakan diri kita untuk berubah.
Pertunjukkan drama, pemain dapat mengekpresikan segala yang dimiliki oleh dirinya secara bebas. Meskipun seorang pemain telah memiliki skenario sendiri, segala gesturnya sudah diperhitungkan oleh sutradara, namun ketika penampilannya di depan panggung dimulai, dia dapat dengan bebas menuangkan ekspresinya. Ketika bermain drama, seorang pemain dituntut untuk melepaskan identitas asilnya dan berperan sesuai dengan lakon. Begitu juga untuk para penonton. Ketika drama mulai dipentaskan, penonton dapat dengan bebas mengimajinasikan mengenai apa yang dipentaskan dan bebas mengintrepetasikan suatu adegan.
Kebebasan tontonan pun bukan hanya untuk pemain dan penonton. Dalam hal ini, seorang sutradara dan penulis teks drama pun terlibat. Seorang sutradara bisa dengan bebas mengarahkan pemain, membuat skenario, mengevaluasi teks drama, dan sebagainya dengan tujuan untuk menyukseskan pementasan tersebut. Berarti sebuah petunjukkan ditujukan untuk membebaskan segala aturan yang ada dan menorobos diri sendiri. Begitu juga dengan penulis teks, ketika ada sesuatu yang membelenggu dirinya atau ide-ide abstrak melintas, maka seorang penulis dapat menuliskannya dalam bentuk teks drama.

Pembebasan dalam suatu tontonan kemudian melahirkan suatu pendidikan dan pengenalan diri. Melalui tontonan, kita dapat belajar bagaimana cara untuk lebih berekspresi. Berekspresi berarti mengeksplor diri sendiri untuk menjadi peran orang lain. Pengenalan diri ini juga berlaku untuk semua orang yang ada pada drama tersebut karena drama dipentaskan untuk diperlihatkan bersama. Mulai dari pengenalan diri, drama melahirkan suatu pendidikan. Pendidikan yang diambil merupakan suatu peristiwa yang sehari-hari dijumpai oleh semua orang sehingga pesan yang tersampaikan sangatlah universal. Akan tetapi, melalui pertunjukkan drama, kita dapat melihat suatu permasalahan dan penyelesaian dari sudut pandang yang berbeda-beda, misalnya dari tokoh yang antagonis, protagonis, bahkan sekadar figuran sekalipun. 

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking