Drama
dipentaskan dalam bentuk tuntas dari sebuah proses. Di balik proses drama ada banyak
hal yang dapat dijadikan suatu pembelajaran hingga menjadi bahan tawaan. Oleh
karena itu, saat pementasan, drama menjadi satu kolaborasi yang utuh untuk
semua orang yang hadir dalam pertunjukkan hingga melahirkan kesan tersendiri.
Intrepretasi dan pesan yang dipertunjukkan dengan bebas diniliai, dirasakan,
dan diresapi oleh semua yang terlibat dalam drama tersebut.
Pada
pembahasan bentuk pembebasan dalam tontanan, kelompok kami mengungkapkan isi
pikiran yang kemudian didiskusikan. Semua pemikiran yang dituangkan memiliki
satu konteks yang sama. Pembebasan dalam suatu pertunjukkan disebut Katarsis,
istilah ini berasal dari Yunani yang artinya pembebasan, pencerahan, pembebasan
dalam sebuah konteks yang dibebaskan melalui teater. Sebuah pembebasan dapat
membangkitkan emansipatoris, yang berarti setelah pembebasan tersebut, lahirlah
hal yang menggerakan diri kita untuk berubah.
Pertunjukkan
drama, pemain dapat mengekpresikan segala yang dimiliki oleh dirinya secara
bebas. Meskipun seorang pemain telah memiliki skenario sendiri, segala
gesturnya sudah diperhitungkan oleh sutradara, namun ketika penampilannya di
depan panggung dimulai, dia dapat dengan bebas menuangkan ekspresinya. Ketika
bermain drama, seorang pemain dituntut untuk melepaskan identitas asilnya dan
berperan sesuai dengan lakon. Begitu juga untuk para penonton. Ketika drama
mulai dipentaskan, penonton dapat dengan bebas mengimajinasikan mengenai apa
yang dipentaskan dan bebas mengintrepetasikan suatu adegan.
Kebebasan
tontonan pun bukan hanya untuk pemain dan penonton. Dalam hal ini, seorang
sutradara dan penulis teks drama pun terlibat. Seorang sutradara bisa dengan
bebas mengarahkan pemain, membuat skenario, mengevaluasi teks drama, dan
sebagainya dengan tujuan untuk menyukseskan pementasan tersebut. Berarti sebuah
petunjukkan ditujukan untuk membebaskan segala aturan yang ada dan menorobos
diri sendiri. Begitu juga dengan penulis teks, ketika ada sesuatu yang
membelenggu dirinya atau ide-ide abstrak melintas, maka seorang penulis dapat
menuliskannya dalam bentuk teks drama.
Pembebasan
dalam suatu tontonan kemudian melahirkan suatu pendidikan dan pengenalan diri.
Melalui tontonan, kita dapat belajar bagaimana cara untuk lebih berekspresi.
Berekspresi berarti mengeksplor diri sendiri untuk menjadi peran orang lain.
Pengenalan diri ini juga berlaku untuk semua orang yang ada pada drama tersebut
karena drama dipentaskan untuk diperlihatkan bersama. Mulai dari pengenalan
diri, drama melahirkan suatu pendidikan. Pendidikan yang diambil merupakan suatu
peristiwa yang sehari-hari dijumpai oleh semua orang sehingga pesan yang
tersampaikan sangatlah universal. Akan tetapi, melalui pertunjukkan drama, kita
dapat melihat suatu permasalahan dan penyelesaian dari sudut pandang yang
berbeda-beda, misalnya dari tokoh yang antagonis, protagonis, bahkan sekadar
figuran sekalipun.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking