Novel berjudul Canting karya Arswendo
Atmowiloto awalnya merupakan cerita bersambung yang diterbitkan di sebuah majalah. Kemudian pada
tahun 1986, cerita
tersebut terbit pertama kalinya dalam bentuk novel, lalu diterbitkan kembali
pada tahun 1997, dan tahun 2007. Isi dari novel ini dibagi menjadi tiga bagian,
masing-masing bagiannya mempunyai cerita khusus dan saling berkaitan dengan
cerita di bagian lainnya. Jika diklasifikasikan menurut jenisnya, novel Canting
merupakan salah satu dari sekian banyak novel bertema roman keluarga dan
mengangkat kisah dari segi feminisme.
Roman keluarga Canting mengungkapkan
kehidupan keluarga Jawa yang mengalami banyak konflik dalam memahami dan
mengamalkan nilai-nilai adat Jawa. Mulai
dari adat istiadat sampai pada kehidupan yang diamalkan oleh para tokoh di
dalamnya. Transformasi kebudayaan Jawa tergambarkan dengan luwes dan kritis. Beberapa
peristiwa sangat menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa bersosialisasi, penggambaran
tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya sehingga, dapat
dikatakan bahwa penulis sangat dekat dengan budaya Jawa dan memberikan fakta
melalui karya sastra.
Penonjolan adat Jawa dalam novel Canting
melahirkan kecondongan cerita pada tokoh priyayi yang sangat diagungkan
masyarakat Jawa umumnya. Priyayi merupakan seorang tokoh masyarakat yang
terhormat, biasanya mempunyai hubungan darah dengan keluarga keraton. Dalam
novel ini sama halnya dengan kenyaataan yang ada, bahwa seorang priyayi adalah
mereka yang sangat terhormat dan mempunyai mandat untuk mengatur masyarakat
golongan biasa. Sehingga, bukan hanya unsur-unsur budaya namun juga kehidupan
sosial dari seorang tokoh priyayi dapat dikaji dan disajikan dengan menarik
pada novel ini.
Secara garis besar, novel Canting
menceritakan bagaimana kehidupan keluarga
priayi Jawa, yang diperankan oleh keluarga Pak Bei. Pak Bei merupakan priayi
Jawa yang sangat berkarisma dan mempunyai pengetahuan luas. Unsur-unsur adat Jawa
di dalam novel sangat kental dengan penggambaran sikap dan kebiasaan-kebiasaan
orang Jawa yang diaplikasikan pada keluarga Pak Bei. Nilai sosial dan budaya
yang dikisahkan kemudian dikaitkan dengan bisnis yang dijalankan oleh keluarga
Pak Bei, yaitu bisnis batik Canting. Namun, semakin menjalarnya kemodernan,
maka bisnis batik itu pun tersingkir oleh batik printing yang lebih modern dan
murah.
Fokus penokohan pada cerita Canting adalah
sosok Pak Bei. Peran Pak Bei pada cerita sangatlah berpengaruh pada kelanjutan cerita.
Setiap idealisme, keyakinan, dan sikap yang ditunjukkan melalui tokoh Pak Bei
dalam cerita merupakan intisari yang mempunyai makna dan menginterpretasikan
pola pikir penulis. Kemudian anak bungsu Pak Bei yang bernama Ni, dia menjadi
kontroversi karena sikapnya yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Namun tokoh
Ni mempunyai karakter yang cukup unik dengan segala kepekaannya terhadap
kelanjutan bisnis keluarganya. Kemunculan tokoh Ni pada tengah cerita
memberikan tolak balik, cerita yang berjalan menjadi tegang berkat segala
tingkah yang ditunjukkan Ni.
1. Golongan Priyayi di Jawa
Priyayi berasal dari kata para yayi (para adik), yang dimaksud
adik dari raja. Artian harfiah tersebutlah yang banyak dikenal oleh masyarakat
Jawa pada umumnya. Kedudukan priyayi mempunyai peran penting dalam stratifikasi
sosial masyarakat. Sebagai golongan elit, priyayi dapat ditinjau dalam konteks
struktur sosial masyarakat tradisioanal-kolonial. Tiga dimensi untuk melihat
golongan priyayi adalah dimensi ekonomi, dimensi politik, dan dimensi sosialnya.
Konsep priyayi terbagi dengan sendirinya pada lingkup daerah dengan kebudayaan
yang dicakup, yaitu kebudayaan Jawa. Secara geografis meliputi Jawa Tengah dan
sebagian Jawa Timur. Daerah Jawa tersebut meliputi Pasisir dan Kuthagara
(Surakarta dan Yogyakarta).
Kemantapan
dan kejayaan priyayi pernah terjadi ketika pertengahan abad ke-19 dan akhir
zaman kolonial Belanda. Pembahasan mengenai konsep priyayi menunjuk pada
golongan sosio-kultural, yaitu golongan yang diidentifikasikan dengan lapisan
atau kelas menengah dalam stratifikasi masyarakat tradisioanal dan masyarakat
kolonial. Akan tetapi stratifikasi masyarakat terperinci lagi menjadi tiga
bagian, yaitu lapisan atas, menengah, dan bawah. Golongan priyayi dipandang
menurut fungsi sosio-kulturalnya, golongan itu adalah berbagai kaum elit yang
dibedakan menurut masyarakat atau rakyat kebanyakan.
Menurut van Niel, golongan priyayi sebagai
kelompok sosial di sekitar tahun 1900 adalah golongan elit, yaitu siapa saja
yang beridi di atas rakyat jelata, yang dalam beberapa hal memimpin, memberi
pengaruh, mengatur dan menuntun masyarakat. Administratur, pegawai pemerintahan,
dan orang-orang yang berpendidikan dan berkedudukan lebih baik, mereka adalah
priyayi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa priyayi adalah mereka yang bekerja
sebagai pejabat administrasi pemerintahan tertentu dan karena kedudukan itu
mereka diberi gelar Raden atau Raden Mas oleh Pemerintahan Kolonial. Namun,
pemerintahan Belanda juga menggunakan asas keturunan), sehingga untuk
mengangkat seorang pegawai, asas keturunan ini juga sangat diperhatikan, yang
akhirnya membentuk garis keturunan keluarga priyayi. Politik kepegawaian yang
berdasarkan keturunan ini menyebabkan terjalinnya hubungan kekerabatan antar
priyayi yang sulit ditembus oleh masyarakat biasa. Mereka yang bukan priyayi
dapat menjadi priyayi dengan cara ngawula,
suwita, atau ngeger yang artinya mengabdikan diri pada seorang priyayi atau
seorang pejabat pemerintahan.
Latar cerita pada novel Canting merujuk
pada daerah Jawa yang kental akan budayanya. Sehingga tokoh di dalamnya
mengangkat seorang Pak Bei yang merupakan priyayi Jawa. Pak Bei dapat diklasifikasikan
menjadi priyayi menurut tiga dimensi kepriyayian, yaitu dimensi ekonomi,
politik, dan sosial.
·
Segi
ekonomi
Sosok Pak Bei merupakan pemilik usaha
batik yang sudah terkenal dan mempunyai buruh yang banyak, sehingga Pak Bei
merupakan orang yang berkecukupan. Pernyataan ini didukung juga dengan
peristiwa saat Pak Bei membantu adiknya yang kesusahan.
“Saya kaya, dan saya menikmati kekayaan itu. Buruh
saya 112, saya yang memberi makan, memberi rumah, memberi segalanya. Saya
kapitalis yang menolong mereka, bukan rakyat yang makan di warung tak bisa
bayar”
(Arswendo, 2007:94)
Melalui kutipan tersebut dapat disimpulkan
bahwa usaha batik yang dijalankan keluarga Pak Bei sangat besar hingga dapat
menampung ratusan buruh untuk dipekerjakannya. Kemudian Pak Bei sebagai anak
sulung pun perah membantu adiknya yang jatuh miskin karena tidak dapat
menjalankan usaha apa pun.
“Itu juga tak mengubah sikapnya ketika datang ke Pak
Bei Sestrokusuma sambil menangis, berdua. “saya
pasrah bongkokan, Kangmas.” Pak Bei masih merasakan sakitnya ketika ia
dikucilkan. Akan tetapi ia kakak yang baik. Ia berkata kepada istrinya agar
mencarikan rumah buat adiknya.”
(Arswendo, 2007:127)
·
Segi
politik
Pemenuhan gelar priyayi Pak Bei juga
diraihnya dengan bergerilya dan ikut aktif dalam perkembangan politik. Pak Bei
sangat kagum dengan sosok Soekarno sebagai tokoh yang berperan di Indonesia
sehigga dia menjadikan Soekarno sebagai panutan dan merasa terpanggil untuk
bergerilya.
“Siapa yang mendapat Bintang Gerilya angkatan pertama
di Solo? Di seluruh Surakarta Hadiningrat ini? Siapa? Raden Ngabehi Daryono
Sestrokusuma. Ada suratnya, ditandatangani Presiden Soekarno. Ada tandanya.
Bintang Gerilya yang dibuat dari pecahan mortir...”
(Arswendo, 2007:89)
“Saya sudah ikut perang di Yogya. Saya ikut
mengusahakan kembalinya Pak Syahrir ketika diculik. Saya datang sendiri, sawan
kepadaa Presiden Soekarno. Ada fotonya. Saya menjamin Pak Syahrir bakal aman,
kembali dengan selamat. Nyatanya kan begitu. Belum musim pahlawan, saya sudah
mendapat Bintang Gerilya...”
(Arswendo, 2007: 95)
·
Segi
sosial
Bisnis batik Canting mengantarkan Pak Bei
pada sosok yang sosialis dengan memperkerjakan ratusan orang untuk dijadikan
buruh batik. Penampilan Pak Bei tidak menunjukkan sebagai orang yang acuh,
namun secara tabiat, dia mempunyai hati yang baik dan mampu menyejahterakan
para buruh pabriknya.
“Wagiman tak habis mengerti. Di saat semua milik Pak
Bei terendam air – semua batik, kain mori, obat-obatan, alat-alat, perabotan
rumah tangga – Pak Bei malah memikirkan orang lain. Berkarung-karung beras
membusuk, kain batik paling halus menjadi gombal, Pak Bei malah menolong orang
lain.”
(Arswendo, 2007:160)
Sebanyak 112 orang buruhnya diberikan
tempat tinggal, disejahterakan hidupnya sehingga para buruh pun merasa kerjanya
sebagai pengabdian.
“Seperti juga penghuni kebon yang lain. Makanya kalau
lama tidak dibuka lagi pabriknya, tak menjadi soal benar. Kalau untuk sementara
tak digaji, itu tak menjadi soal benar....... makanya dia merasa bahwa
pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur.
Kepasrahan—penyerahan secara ikhlas—adalah sesuatu yang wajar”
(Arswendo, 2007:160-161)
2. Gelar kebangsawanan
Gelar menunjukkan martabat seseorang, sama
halnya dengan gelar yang diberikan kepada orang-orang Jawa yang diberikan
secara khusus. Gelar yang dimiliki orang Jawa dapat dihubungkan dengan perannya
di masa tersebut. Contohnya gelar Raden
atau Raden Mas adalah gelar yang diberikan
karena status kekeluargaannya. Semua priyayi yang memakai gelar Raden Mas atau
Raden selalu mempunyai garis keturunan yang berpangkal pada raja-raja di masa
lalu atau sekurang-kurangnya berasal dari nenek moyang yang menjadi bupati
dengan gelar Raden Tumenggung, Adipati, atau Pangeran.
Sama halnya dengan gelar Pak Bei dalam
novel Canting, pada novel ini, Pak Bei diberi gelar Ngabean, artinya sama
dengan Raden. “Ndalem Ngabean Sestrokusuma, sebutan untuk kediaman Raden Ngabehi
Sestrokusuma, tidak biasanya sepi seperti ini.” Gelar Ngabean yang selalu
disebutkan dalam cerita merupakan pengganti dari kata Raden Mas. Beberapa tokoh
di dalam cerita Canting merup akan
kerabat dekat keraton, sehingga penamaan gelar itu selalu ada atau mengikuti
nama keturunannya. Contohnya seperti tokoh Kanjeng Raden Tumenggung
Sestrodinigrat, Ngabehi Tondodipuro, dan beberapa tokoh lainnya merupanyai asal
keturunan dari keluarga keraton dan sekupulan orang priyayi, namun penamaan
gelar dan panggilannya dapat dibedakan menurut kedudukan sosialnya.
3. Lambang Kepriyayian
Golongan priyayi sebagai kelompok sosial
yang memiliki keistimewaan tertentu menampakkan perbedaannya sebagai ciri khas.
Ciri-ciri kepriyayian dapat ditinjau sekilas melalui adat, sopan-santun, dan
bahasa yang ditunjukkan. Namun, beberapa wujud konkrit seseorang yang
menonjolkan kelas priyayinya dapat ditunjukkan dengan tempat tinggal, dan pakaiannya.
·
Tempat
Tinggal
Tingkat kebangsawanan dan tingkat
kepangkatan membentuk arsitektur yang berbeda. Menurut adat Jawa, pada masa
yang lalu tidak akan seseorang membangun rumah yang melebihi atau
setidak-tidaknya menyamai rumah pembesarnya atau orang-orang yang kedudukannya
lebih tinggi daripada dirinya.
Tempat tinggal para priyayi membentuk
kompleks. Sekitar kompleks tersebut terdapat alun-alun. Pembatas rumah dan
jalanan di depan rumah berupa tembok yang besar. Tempat tinggal priyayi
mempunyai desain atap berentuk limas atau joglo. Lalu di dalam rumah terdapat
Dalem ageng, yaitu rumah utama yang menjadi tempat tinggal anggota keluarga.
Dalem ageng terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu serambi depan yang
dinamakan pringgitan, ruang dalam atau ruang tengah, dan serambi belakang.
Arsitektur rumah priyayi juga trgambar
dalam tempat tinggal keluarga Pak Bei. Sebutan untuk tempat tinggal dalam
cerita adalah Ndalem, “Ndalem Ngabean Sestrokusuma tampak sunyi, sewaktu
matahari menumpahkan sisa-sisa suryanya yang kuning sore lewat daun-daun pohon
sawo kecik....” ungkapan Ndalem ini lebih menunjukkan kesopanan dan jika
dikaitkan dengan sosok Pak Bei yang berwibawa, kata Ndalem adalah kata yang
tepat untuk menyebutkan tempat tinggalnya.
Ruangan
yang sering dibicarakan dalam novel adalah bagian gandhok, yaitu tempat 112 buruh mengerjakan pekerjaan membatiknya. Gandhok
merupakan tempat di bagian kiri dan kanan yang berhimpitan dengan dalem ageng.
“Tak pernah bagian
gandhok, di samping ruang utama yang membujur ke belakang jauh sekali, begitu
kosong dari tarikan napas. Di gandhok itu, biasanya ada 112 buruh batik,
sepuluh di antaranya tukang cap, yang bekerja sejak pagi hari sampai sore
hari.”
(Arswendo,
2007:5)
Ruangan selanjutnya yang dominan tercantum
pada novel adalah kebon, yaitu bagian belakang pada tempat tinggal Pak Bei.
Bagian belakang ini dikhususkan untuk para buruh pabrik, di sana disediakan
rumah-rumah berderet untuk para buruh pabrik.
“Empat puluh buruh batik, yang sebagian besar pasangan
suami-istri, kembali ke dalam kamarnya. Kamar yang berderet-deret di bagian
belakang bangunan utama. Bagian yang disebut kebon.”
(Arswendo,
2007:7).
·
Pakaian
Resmi
Status kepriyayian Jawa ternilai dari cara
berpkaiannya. Bukan hanya pakaian sehari-hari atau saat pergi bekerja, namun
pakaian saat menerima upacara-upacara kerajaan resmi dan menghadiri
pertemuan-pertemuan penting di kerajaan, atribut sangat diperhatikan sebagai
lambang kewibawaan dan pangkat.
Aturannya, ada tiga macam pakaian resmi
Jawa, yaitu dodotan, kanigaran, da keprajuritan. Pakaian resmi ini mempunyai
bagian pokok dan setiap bagiannya diberikan ciri khusus yang menunjukkan status
kebangsawanannya. Bagian pokok itu adalah; tutup kepala yang dinamakan kuluk
dan destar, baju atau sikepan, dan kain yang dinamakan dodot dan nyamping atau
bebed.
Ø Kuluk ialah tutup kepala yag berbentuk
kerucut terpanung dan dibuat dari kain. Ada tiga macam kuluk yang dapat dipakai
priyayi. Pertama adalah kuluk mathak,
yaitu kuluk yang dibuat dari kain mengkilap, biasanya berwarna biru muda dan
putih, untuk yang betwarna biru muda yang berhak memakai adalah bupati bergelar
pangeran, sedangkan warna putih adalah bupati yang bergelar tumenggung sampai
yang berpagkat wedana. Lalu kuluk bercen untuk priyayi di bawah
pangkat wedana. Terakhir ada kuluk
kanigara yang bisa dipakai oleh semua bupati di bawah pangkat wedana sekalipun
dan dipakai pada peristiwa-peristiwa tertentu sebagai pengganti kuluk mathak.
Ø Sikepan ialah baju yang dibuat dari laken
hitam atau laken biru tua. Terdapat hiasan bermotif bunga dan dan pada tepi
bawah baju, di depan tempat kancin, leher baju, dan tepi bawah lengan. Bentuk
motif dan warna benang emas atau perak tergantung pada gelar kebangswanan orang
yang memakainya. Sikepan ageng, hanya dipakai pada peristiwa-peristiwa besar
seperti pelantikan bupati, menghadap gubernur jendral, dan sebagainya.
Sedangkan sikepan alit, yaitu sikepan tanpa hiasan bordir.
Ø Dodot atau kampuh ialah kain batik yang
panjanganya 2x3 meter lebih. Dodot hanya dipakai sebagai kain kebesaran dan
dipakai saat peristiwa-peristiwa penting saja.
Berpakaian adat Jawa dalam novel Canting
ditunjukkan pada bagian ke tiga, yitu saat perayaan ulang tahu Pak Bei ke 64.
Semua keluarga memakai pakaian yang cukup sakral, Pak Bei menjadi semakin
berwibawa dengan pakaiannya.
“Pak Bei telah
berdandan pakaian Jawa sempurna. Hanya mengangkat alis sedikit—kalau Ni tak
salah lirik. Tetap gagahh, dengan hidung mancung, kulit bersih, dan yang
membuat Ni nampak kagum ialah ayahnya selalu nampak hadir.....”
(Arswendo, 2007:168)
Maka dapat disimpulkan bahwa Pak Bei,
meskipun seorang priyayi, dia hanya berpakaian lengkap di peristiwa-peristiwa
penting saja.
Budaya Jawa yang kentara pada novel Canting memberikan banyak pelajaran. mengenai konsep priyayi, kehidupan sosial, dan cara mereka mengabdi pada diri sendiri dan keraton. Akan tetapi, dalam novel ini bukan hanya hal-hal itu saja yang membuatnya menarik. Mungkin ketika mendengar cerita mengenai budaya Jawa, pembaca hanya menggambarkannya dalam konsep yang sederhana dan membosankan. Tetapi, lain halnya dengan novel Cating karya Arswendo ini. Setiap kata dikemas dengan sangat ringkas tetapi bermakna. Setiap jalan cerita tidak dan tujuan penceritaan disajikan dengan cara yang menarik.