Wys tans plasings met die etiket Sastra dalam Diriku. Wys alle plasings
Wys tans plasings met die etiket Sastra dalam Diriku. Wys alle plasings

Dinsdag 16 Februarie 2016

Kado Ulang Tahun

Waktu selalu bergerak per sekonnya
Dan,
Aku masih di sini mengemasi kado kosong,
Yang ragu kuberikan
Kepada engkau yang dulunya kawan

Dulu kau bilang,
Mari tiup lilin besama di sepanjang usia
Mari berkado dan saling membahagiakan
Walaupun bukan lewat kejutan,
Yang penting kami bertemu

Bagimu, perayaan ulang tahun akan selalu sakral,
Harus ada angka dengan api yang menyala
Di atas kue bolu yang dilumuri coklat
Tak apa sekalipun kue itu kecil dan tidak mahal
Katamu, yang penting aku tiup lilin

Kini aku berada di pergantian usiamu
Sedang membentak waktu agar bertahan di detik itu
Karena kuragu dengan pertemuan kita yang akan
Menjahit luka di pikiran dan kelanjutan hidupku

Tapi, aku mesti berlari
Ke tempat kau menunggu untuk diucapkan
Selamat ulang tahun yang harus tiba tepat waktu

Aku berlari
Menuju tempatmu yang sempit dan abadi
Sini, kubukakan kado kosong  dariku, kataku
Silahkan kau tiup dulu lilin ini
Dengan satu tiupanmu yang tanpa tenaga

Aku terpejam dan berkata,
Selamat tidur panjang, dan berbahagia

Itu kado untukmu, dariku.

Nilai Sosial dan Budaya dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto

Novel berjudul Canting karya Arswendo Atmowiloto awalnya merupakan cerita bersambung yang diterbitkan di sebuah majalah. Kemudian pada tahun 1986, cerita tersebut terbit pertama kalinya dalam bentuk novel, lalu diterbitkan kembali pada tahun 1997, dan tahun 2007. Isi dari novel ini dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing bagiannya mempunyai cerita khusus dan saling berkaitan dengan cerita di bagian lainnya. Jika diklasifikasikan menurut jenisnya, novel Canting merupakan salah satu dari sekian banyak novel bertema roman keluarga dan mengangkat kisah dari segi feminisme.
Roman keluarga Canting mengungkapkan kehidupan keluarga Jawa yang mengalami banyak konflik dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai adat Jawa. Mulai dari adat istiadat sampai pada kehidupan yang diamalkan oleh para tokoh di dalamnya. Transformasi kebudayaan Jawa tergambarkan dengan luwes dan kritis. Beberapa peristiwa sangat menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa bersosialisasi, penggambaran tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya sehingga, dapat dikatakan bahwa penulis sangat dekat dengan budaya Jawa dan memberikan fakta melalui karya sastra.
Penonjolan adat Jawa dalam novel Canting melahirkan kecondongan cerita pada tokoh priyayi yang sangat diagungkan masyarakat Jawa umumnya. Priyayi merupakan seorang tokoh masyarakat yang terhormat, biasanya mempunyai hubungan darah dengan keluarga keraton. Dalam novel ini sama halnya dengan kenyaataan yang ada, bahwa seorang priyayi adalah mereka yang sangat terhormat dan mempunyai mandat untuk mengatur masyarakat golongan biasa. Sehingga, bukan hanya unsur-unsur budaya namun juga kehidupan sosial dari seorang tokoh priyayi dapat dikaji dan disajikan dengan menarik pada novel ini.
Secara garis besar, novel Canting menceritakan bagaimana  kehidupan keluarga priayi Jawa, yang diperankan oleh keluarga Pak Bei. Pak Bei merupakan priayi Jawa yang sangat berkarisma dan mempunyai pengetahuan luas. Unsur-unsur adat Jawa di dalam novel sangat kental dengan penggambaran sikap dan kebiasaan-kebiasaan orang Jawa yang diaplikasikan pada keluarga Pak Bei. Nilai sosial dan budaya yang dikisahkan kemudian dikaitkan dengan bisnis yang dijalankan oleh keluarga Pak Bei, yaitu bisnis batik Canting. Namun, semakin menjalarnya kemodernan, maka bisnis batik itu pun tersingkir oleh batik printing yang lebih modern dan murah.
Fokus penokohan pada cerita Canting adalah sosok Pak Bei. Peran Pak Bei pada cerita sangatlah berpengaruh pada kelanjutan cerita. Setiap idealisme, keyakinan, dan sikap yang ditunjukkan melalui tokoh Pak Bei dalam cerita merupakan intisari yang mempunyai makna dan menginterpretasikan pola pikir penulis. Kemudian anak bungsu Pak Bei yang bernama Ni, dia menjadi kontroversi karena sikapnya yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Namun tokoh Ni mempunyai karakter yang cukup unik dengan segala kepekaannya terhadap kelanjutan bisnis keluarganya. Kemunculan tokoh Ni pada tengah cerita memberikan tolak balik, cerita yang berjalan menjadi tegang berkat segala tingkah yang ditunjukkan Ni.

1.      Golongan Priyayi di Jawa

Priyayi berasal dari kata para yayi (para adik), yang dimaksud adik dari raja. Artian harfiah tersebutlah yang banyak dikenal oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Kedudukan priyayi mempunyai peran penting dalam stratifikasi sosial masyarakat. Sebagai golongan elit, priyayi dapat ditinjau dalam konteks struktur sosial masyarakat tradisioanal-kolonial. Tiga dimensi untuk melihat golongan priyayi adalah dimensi ekonomi, dimensi politik, dan dimensi sosialnya. Konsep priyayi terbagi dengan sendirinya pada lingkup daerah dengan kebudayaan yang dicakup, yaitu kebudayaan Jawa. Secara geografis meliputi Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Daerah Jawa tersebut meliputi Pasisir dan Kuthagara (Surakarta dan Yogyakarta).
Kemantapan dan kejayaan priyayi pernah terjadi ketika pertengahan abad ke-19 dan akhir zaman kolonial Belanda. Pembahasan mengenai konsep priyayi menunjuk pada golongan sosio-kultural, yaitu golongan yang diidentifikasikan dengan lapisan atau kelas menengah dalam stratifikasi masyarakat tradisioanal dan masyarakat kolonial. Akan tetapi stratifikasi masyarakat terperinci lagi menjadi tiga bagian, yaitu lapisan atas, menengah, dan bawah. Golongan priyayi dipandang menurut fungsi sosio-kulturalnya, golongan itu adalah berbagai kaum elit yang dibedakan menurut masyarakat atau rakyat kebanyakan.

Menurut van Niel, golongan priyayi sebagai kelompok sosial di sekitar tahun 1900 adalah golongan elit, yaitu siapa saja yang beridi di atas rakyat jelata, yang dalam beberapa hal memimpin, memberi pengaruh, mengatur dan menuntun masyarakat. Administratur, pegawai pemerintahan, dan orang-orang yang berpendidikan dan berkedudukan lebih baik, mereka adalah priyayi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa priyayi adalah mereka yang bekerja sebagai pejabat administrasi pemerintahan tertentu dan karena kedudukan itu mereka diberi gelar Raden atau Raden Mas oleh Pemerintahan Kolonial. Namun, pemerintahan Belanda juga menggunakan asas keturunan), sehingga untuk mengangkat seorang pegawai, asas keturunan ini juga sangat diperhatikan, yang akhirnya membentuk garis keturunan keluarga priyayi. Politik kepegawaian yang berdasarkan keturunan ini menyebabkan terjalinnya hubungan kekerabatan antar priyayi yang sulit ditembus oleh masyarakat biasa. Mereka yang bukan priyayi dapat menjadi priyayi dengan cara ngawula, suwita, atau ngeger yang artinya mengabdikan diri pada seorang priyayi atau seorang pejabat pemerintahan.
Latar cerita pada novel Canting merujuk pada daerah Jawa yang kental akan budayanya. Sehingga tokoh di dalamnya mengangkat seorang Pak Bei yang merupakan priyayi Jawa. Pak Bei dapat diklasifikasikan menjadi priyayi menurut tiga dimensi kepriyayian, yaitu dimensi ekonomi, politik, dan sosial.

·         Segi ekonomi
Sosok Pak Bei merupakan pemilik usaha batik yang sudah terkenal dan mempunyai buruh yang banyak, sehingga Pak Bei merupakan orang yang berkecukupan. Pernyataan ini didukung juga dengan peristiwa saat Pak Bei membantu adiknya yang kesusahan.

“Saya kaya, dan saya menikmati kekayaan itu. Buruh saya 112, saya yang memberi makan, memberi rumah, memberi segalanya. Saya kapitalis yang menolong mereka, bukan rakyat yang makan di warung tak bisa bayar”
(Arswendo, 2007:94)

Melalui kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha batik yang dijalankan keluarga Pak Bei sangat besar hingga dapat menampung ratusan buruh untuk dipekerjakannya. Kemudian Pak Bei sebagai anak sulung pun perah membantu adiknya yang jatuh miskin karena tidak dapat menjalankan usaha apa pun.

“Itu juga tak mengubah sikapnya ketika datang ke Pak Bei Sestrokusuma sambil menangis, berdua. “saya pasrah bongkokan, Kangmas.” Pak Bei masih merasakan sakitnya ketika ia dikucilkan. Akan tetapi ia kakak yang baik. Ia berkata kepada istrinya agar mencarikan rumah buat adiknya.”
(Arswendo, 2007:127)

·         Segi politik
Pemenuhan gelar priyayi Pak Bei juga diraihnya dengan bergerilya dan ikut aktif dalam perkembangan politik. Pak Bei sangat kagum dengan sosok Soekarno sebagai tokoh yang berperan di Indonesia sehigga dia menjadikan Soekarno sebagai panutan dan merasa terpanggil untuk bergerilya.
“Siapa yang mendapat Bintang Gerilya angkatan pertama di Solo? Di seluruh Surakarta Hadiningrat ini? Siapa? Raden Ngabehi Daryono Sestrokusuma. Ada suratnya, ditandatangani Presiden Soekarno. Ada tandanya. Bintang Gerilya yang dibuat dari pecahan mortir...”
(Arswendo, 2007:89)
“Saya sudah ikut perang di Yogya. Saya ikut mengusahakan kembalinya Pak Syahrir ketika diculik. Saya datang sendiri, sawan kepadaa Presiden Soekarno. Ada fotonya. Saya menjamin Pak Syahrir bakal aman, kembali dengan selamat. Nyatanya kan begitu. Belum musim pahlawan, saya sudah mendapat Bintang Gerilya...”
(Arswendo, 2007: 95)

·         Segi sosial
Bisnis batik Canting mengantarkan Pak Bei pada sosok yang sosialis dengan memperkerjakan ratusan orang untuk dijadikan buruh batik. Penampilan Pak Bei tidak menunjukkan sebagai orang yang acuh, namun secara tabiat, dia mempunyai hati yang baik dan mampu menyejahterakan para buruh pabriknya. 

“Wagiman tak habis mengerti. Di saat semua milik Pak Bei terendam air – semua batik, kain mori, obat-obatan, alat-alat, perabotan rumah tangga – Pak Bei malah memikirkan orang lain. Berkarung-karung beras membusuk, kain batik paling halus menjadi gombal, Pak Bei malah menolong orang lain.”
(Arswendo, 2007:160)

Sebanyak 112 orang buruhnya diberikan tempat tinggal, disejahterakan hidupnya sehingga para buruh pun merasa kerjanya sebagai pengabdian.

“Seperti juga penghuni kebon yang lain. Makanya kalau lama tidak dibuka lagi pabriknya, tak menjadi soal benar. Kalau untuk sementara tak digaji, itu tak menjadi soal benar....... makanya dia merasa bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan—penyerahan secara ikhlas—adalah sesuatu yang wajar”
(Arswendo, 2007:160-161)
     
2.      Gelar kebangsawanan
Gelar menunjukkan martabat seseorang, sama halnya dengan gelar yang diberikan kepada orang-orang Jawa yang diberikan secara khusus. Gelar yang dimiliki orang Jawa dapat dihubungkan dengan perannya di masa tersebut. Contohnya gelar Raden atau Raden Mas adalah gelar yang diberikan karena status kekeluargaannya. Semua priyayi yang memakai gelar Raden Mas atau Raden selalu mempunyai garis keturunan yang berpangkal pada raja-raja di masa lalu atau sekurang-kurangnya berasal dari nenek moyang yang menjadi bupati dengan gelar Raden Tumenggung, Adipati, atau Pangeran.
Sama halnya dengan gelar Pak Bei dalam novel Canting, pada novel ini, Pak Bei diberi gelar Ngabean, artinya sama dengan Raden. “Ndalem Ngabean Sestrokusuma, sebutan untuk kediaman Raden Ngabehi Sestrokusuma, tidak biasanya sepi seperti ini.” Gelar Ngabean yang selalu disebutkan dalam cerita merupakan pengganti dari kata Raden Mas. Beberapa tokoh di dalam cerita Canting merup     akan kerabat dekat keraton, sehingga penamaan gelar itu selalu ada atau mengikuti nama keturunannya. Contohnya seperti tokoh Kanjeng Raden Tumenggung Sestrodinigrat, Ngabehi Tondodipuro, dan beberapa tokoh lainnya merupanyai asal keturunan dari keluarga keraton dan sekupulan orang priyayi, namun penamaan gelar dan panggilannya dapat dibedakan menurut kedudukan sosialnya.

3.      Lambang Kepriyayian
Golongan priyayi sebagai kelompok sosial yang memiliki keistimewaan tertentu menampakkan perbedaannya sebagai ciri khas. Ciri-ciri kepriyayian dapat ditinjau sekilas melalui adat, sopan-santun, dan bahasa yang ditunjukkan. Namun, beberapa wujud konkrit seseorang yang menonjolkan kelas priyayinya dapat ditunjukkan dengan tempat tinggal, dan pakaiannya.
·         Tempat Tinggal
Tingkat kebangsawanan dan tingkat kepangkatan membentuk arsitektur yang berbeda. Menurut adat Jawa, pada masa yang lalu tidak akan seseorang membangun rumah yang melebihi atau setidak-tidaknya menyamai rumah pembesarnya atau orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi daripada dirinya.
Tempat tinggal para priyayi membentuk kompleks. Sekitar kompleks tersebut terdapat alun-alun. Pembatas rumah dan jalanan di depan rumah berupa tembok yang besar. Tempat tinggal priyayi mempunyai desain atap berentuk limas atau joglo. Lalu di dalam rumah terdapat Dalem ageng, yaitu rumah utama yang menjadi tempat tinggal anggota keluarga. Dalem ageng terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu serambi depan yang dinamakan pringgitan, ruang dalam atau ruang tengah, dan serambi belakang.
Arsitektur rumah priyayi juga trgambar dalam tempat tinggal keluarga Pak Bei. Sebutan untuk tempat tinggal dalam cerita adalah Ndalem, “Ndalem Ngabean Sestrokusuma tampak sunyi, sewaktu matahari menumpahkan sisa-sisa suryanya yang kuning sore lewat daun-daun pohon sawo kecik....” ungkapan Ndalem ini lebih menunjukkan kesopanan dan jika dikaitkan dengan sosok Pak Bei yang berwibawa, kata Ndalem adalah kata yang tepat untuk menyebutkan tempat tinggalnya.
Ruangan yang sering dibicarakan dalam novel adalah bagian gandhok, yaitu tempat 112 buruh mengerjakan pekerjaan membatiknya. Gandhok merupakan tempat di bagian kiri dan kanan yang berhimpitan dengan dalem ageng.

“Tak pernah bagian gandhok, di samping ruang utama yang membujur ke belakang jauh sekali, begitu kosong dari tarikan napas. Di gandhok itu, biasanya ada 112 buruh batik, sepuluh di antaranya tukang cap, yang bekerja sejak pagi hari sampai sore hari.”
(Arswendo, 2007:5)
           
Ruangan selanjutnya yang dominan tercantum pada novel adalah kebon, yaitu bagian belakang pada tempat tinggal Pak Bei. Bagian belakang ini dikhususkan untuk para buruh pabrik, di sana disediakan rumah-rumah berderet untuk para buruh pabrik.

“Empat puluh buruh batik, yang sebagian besar pasangan suami-istri, kembali ke dalam kamarnya. Kamar yang berderet-deret di bagian belakang bangunan utama. Bagian yang disebut kebon.”
(Arswendo, 2007:7).

·         Pakaian Resmi
Status kepriyayian Jawa ternilai dari cara berpkaiannya. Bukan hanya pakaian sehari-hari atau saat pergi bekerja, namun pakaian saat menerima upacara-upacara kerajaan resmi dan menghadiri pertemuan-pertemuan penting di kerajaan, atribut sangat diperhatikan sebagai lambang kewibawaan dan pangkat.
Aturannya, ada tiga macam pakaian resmi Jawa, yaitu dodotan, kanigaran, da keprajuritan. Pakaian resmi ini mempunyai bagian pokok dan setiap bagiannya diberikan ciri khusus yang menunjukkan status kebangsawanannya. Bagian pokok itu adalah; tutup kepala yang dinamakan kuluk dan destar, baju atau sikepan, dan kain yang dinamakan dodot dan nyamping atau bebed.
Ø  Kuluk ialah tutup kepala yag berbentuk kerucut terpanung dan dibuat dari kain. Ada tiga macam kuluk yang dapat dipakai priyayi. Pertama adalah kuluk mathak, yaitu kuluk yang dibuat dari kain mengkilap, biasanya berwarna biru muda dan putih, untuk yang betwarna biru muda yang berhak memakai adalah bupati bergelar pangeran, sedangkan warna putih adalah bupati yang bergelar tumenggung sampai yang berpagkat wedana. Lalu kuluk bercen untuk priyayi di bawah pangkat wedana. Terakhir ada kuluk kanigara yang bisa dipakai oleh semua bupati di bawah pangkat wedana sekalipun dan dipakai pada peristiwa-peristiwa tertentu sebagai pengganti kuluk mathak.
Ø  Sikepan ialah baju yang dibuat dari laken hitam atau laken biru tua. Terdapat hiasan bermotif bunga dan dan pada tepi bawah baju, di depan tempat kancin, leher baju, dan tepi bawah lengan. Bentuk motif dan warna benang emas atau perak tergantung pada gelar kebangswanan orang yang memakainya. Sikepan ageng, hanya dipakai pada peristiwa-peristiwa besar seperti pelantikan bupati, menghadap gubernur jendral, dan sebagainya. Sedangkan sikepan alit, yaitu sikepan tanpa hiasan bordir.
Ø  Dodot atau kampuh ialah kain batik yang panjanganya 2x3 meter lebih. Dodot hanya dipakai sebagai kain kebesaran dan dipakai saat peristiwa-peristiwa penting saja.
Berpakaian adat Jawa dalam novel Canting ditunjukkan pada bagian ke tiga, yitu saat perayaan ulang tahu Pak Bei ke 64. Semua keluarga memakai pakaian yang cukup sakral, Pak Bei menjadi semakin berwibawa dengan pakaiannya.

“Pak Bei telah berdandan pakaian Jawa sempurna. Hanya mengangkat alis sedikit—kalau Ni tak salah lirik. Tetap gagahh, dengan hidung mancung, kulit bersih, dan yang membuat Ni nampak kagum ialah ayahnya selalu nampak hadir.....”
(Arswendo, 2007:168)

Maka dapat disimpulkan bahwa Pak Bei, meskipun seorang priyayi, dia hanya berpakaian lengkap di peristiwa-peristiwa penting saja.

Budaya Jawa yang kentara pada novel Canting memberikan banyak pelajaran. mengenai konsep priyayi, kehidupan sosial, dan cara mereka mengabdi pada diri sendiri dan keraton. Akan tetapi, dalam novel ini bukan hanya hal-hal itu saja yang membuatnya menarik. Mungkin ketika mendengar cerita mengenai budaya Jawa, pembaca hanya menggambarkannya dalam konsep yang sederhana dan membosankan. Tetapi, lain halnya dengan novel Cating karya Arswendo ini. Setiap kata dikemas dengan sangat ringkas tetapi bermakna. Setiap jalan cerita tidak dan tujuan penceritaan disajikan dengan cara yang menarik.




Bentuk Pembebasan dalam Tontonan; Drama sebagai Sarana Pembebasan, Pengenalan Diri, dan Pendidikan

Drama dipentaskan dalam bentuk tuntas dari sebuah proses. Di balik proses drama ada banyak hal yang dapat dijadikan suatu pembelajaran hingga menjadi bahan tawaan. Oleh karena itu, saat pementasan, drama menjadi satu kolaborasi yang utuh untuk semua orang yang hadir dalam pertunjukkan hingga melahirkan kesan tersendiri. Intrepretasi dan pesan yang dipertunjukkan dengan bebas diniliai, dirasakan, dan diresapi oleh semua yang terlibat dalam drama tersebut.
Pada pembahasan bentuk pembebasan dalam tontanan, kelompok kami mengungkapkan isi pikiran yang kemudian didiskusikan. Semua pemikiran yang dituangkan memiliki satu konteks yang sama. Pembebasan dalam suatu pertunjukkan disebut Katarsis, istilah ini berasal dari Yunani yang artinya pembebasan, pencerahan, pembebasan dalam sebuah konteks yang dibebaskan melalui teater. Sebuah pembebasan dapat membangkitkan emansipatoris, yang berarti setelah pembebasan tersebut, lahirlah hal yang menggerakan diri kita untuk berubah.
Pertunjukkan drama, pemain dapat mengekpresikan segala yang dimiliki oleh dirinya secara bebas. Meskipun seorang pemain telah memiliki skenario sendiri, segala gesturnya sudah diperhitungkan oleh sutradara, namun ketika penampilannya di depan panggung dimulai, dia dapat dengan bebas menuangkan ekspresinya. Ketika bermain drama, seorang pemain dituntut untuk melepaskan identitas asilnya dan berperan sesuai dengan lakon. Begitu juga untuk para penonton. Ketika drama mulai dipentaskan, penonton dapat dengan bebas mengimajinasikan mengenai apa yang dipentaskan dan bebas mengintrepetasikan suatu adegan.
Kebebasan tontonan pun bukan hanya untuk pemain dan penonton. Dalam hal ini, seorang sutradara dan penulis teks drama pun terlibat. Seorang sutradara bisa dengan bebas mengarahkan pemain, membuat skenario, mengevaluasi teks drama, dan sebagainya dengan tujuan untuk menyukseskan pementasan tersebut. Berarti sebuah petunjukkan ditujukan untuk membebaskan segala aturan yang ada dan menorobos diri sendiri. Begitu juga dengan penulis teks, ketika ada sesuatu yang membelenggu dirinya atau ide-ide abstrak melintas, maka seorang penulis dapat menuliskannya dalam bentuk teks drama.

Pembebasan dalam suatu tontonan kemudian melahirkan suatu pendidikan dan pengenalan diri. Melalui tontonan, kita dapat belajar bagaimana cara untuk lebih berekspresi. Berekspresi berarti mengeksplor diri sendiri untuk menjadi peran orang lain. Pengenalan diri ini juga berlaku untuk semua orang yang ada pada drama tersebut karena drama dipentaskan untuk diperlihatkan bersama. Mulai dari pengenalan diri, drama melahirkan suatu pendidikan. Pendidikan yang diambil merupakan suatu peristiwa yang sehari-hari dijumpai oleh semua orang sehingga pesan yang tersampaikan sangatlah universal. Akan tetapi, melalui pertunjukkan drama, kita dapat melihat suatu permasalahan dan penyelesaian dari sudut pandang yang berbeda-beda, misalnya dari tokoh yang antagonis, protagonis, bahkan sekadar figuran sekalipun.